Selasa, 16 September 2014

Nama saya Alimur liwiya.Saya seorang mahasiswa Papua yang berkuliah di STKIP Surya. Saya berasal dari Desa Distrik Kuari, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua.
 Aneh dan tampak sedikit menakutkan bila dilihat dari rupa dan penampilan saya. Akan tetapi, siapa yang bisa menyangka saya adalah orang yang sangat ramah dan tulus dalam menjalin pertemanan dengan orang lain. Pertama kali saya bertemu dengan temen-teman dari Kalimantan Tenggah,Belitung Timur,Palembang yaitu saat memasuki kampus STKIP Surya ini, tepatnya di kelas TIK 3. Saya, berkulit hitam, keriting rambut layaknya seorang Papua Pikiranku akankah mereka berteman denganku, namun rasa itu tidak mengalang saya untuk berteman dengan mereka, mereka adalah teman-teman yang terbaik yang perna saya alami saat matrikulasi. Singkat cerita, saya adalah anak seorang petani yang bercita-cita tinggi untuk bersekolah. Saya adalah anak ke 1 dari 3 bersaudara.
Papua adalah daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kemajuan teknologi dan jarang tersentuh oleh perhatian pemerintah. Hal ini menimbulkan dampak di berbagai aspek kehidupan, salah satunya pendidikan. Jumlah sekolah yang ada di sana masih tergolong sedikit dan jauh dari rumah penduduk. Betapa tidak, saya yang tinggal di daerah pegunungan harus menempuh jarak lebih dari 5 km dengan berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Namun, jauhnya jarak tidak menyurutkan semangatku untuk tetap bersekolah. Tidak ada sedikitpun keluh-kesah yang di rasakan olehku dalam menjalani semuanya itu.

Saya tergolong anak yang kurang cerdas. Sejak menginjak bangku Sekolah Dasar sampai SMA. Saya ingin membuktikan walaupun saya dari pedalaman, saya masih dapat bersaing dengan anak-anak kota di daerahku, namun mereka lebih jauh lebih baik dari saya. Pada saat saya menginjak bangku SMP saya mempunyai cita-cita yang sangat mulia yaitu menjadi seorang pailot. Jika saya sudah lulus SMA saya ingin melanjutkan kuliah dipenerbangan walaupun matematika saya kurang sempurna apa lagi bahasa inggrispun tidak tahu . Padahal semua orang tahu bahwa kuliah penerbangan itu sangatlah mahal apalagi untuk orang seperti saya yang hanya salah satu anak seorang petani. Ada alasan mengapa saya ingin sekali menjadi seorang pailot. Alasan saya sangat sederhana, mengapa orang lain bisa sedangkan saya kenapa tidak bisa itulah yang menjadi alasan saya.
Dikelas saya adalah mahasiswa yang ceria. Akan tetapi, keceriaanku akan surut apabila mendapat nilai kecil dalam bahasa Indonesia. Saya memang mempunyai kemampuan yang belum baik dalam berbahasa. Saya selalu berusaha dengan keras untuk menaklukkan bahasa Indonesia, tetapi nilai yang kecil selalu menghantuhiku dan membuatku meneteskan air mata apabila melihat kertas ujian bertuliskan nilai kecil. Ibu Hening selalu berusaha menghiburku. Dan berkata “Pak Guru Ally jangan menangis”, ucapan itu selalu menghibur saya. Panggilan itu begitu melekat pada saya sebab saya selalu memanggil semua teman-teman dengan sebutan Pak Guru dan Bu Guru, seperti “Pak Guru Kalimantan, Pak guru Belitung, Bu Guru Kalimantan, Bu guru Belitung”. Guru adalah profesi yang mungkin akan dijalani olehku setelah lulus kuliah di STKIP Surya, walau hal itu tidak perna terpikir olehku.
Beralih ke cita-cita awalnya tadi. Saya tidak menyangka cita-cita saya begitu besar. Menjadi pailot adalah cita-cita yang luar biasa tetapi saya yang hanya seorang anak petani yang tanpa ragu menjadikan itu sebagai tujuanku, Keseriusanku, akan tetapi, saya menyadari bawah kondisi keuangan keluargaku tidak memungkinkan untuk menggapai semua itu. Petani Papua dengan penghasilan yang tidak seberapa akan sulit bagiku untuk membiayai pendidikan penerbangan. Saya hidup masih dalam kondisi sederhana dan tradisonal. saya tinggal di daerah pegunungan dengan tempat tinggal masih menggunakan rumah adat Papua, yaitu Rumah Honai. Akhirnya saya mengurungkan niatku untuk menjadi pailot. Sekarang saya berkuliah dengan beasiswa Pemda Tolikara di STKIP Surya untuk menjadi guru. Satu lagi keinginan saya adalah setelah lulus S1 saya dapat ingin melanjutkan pendidikan S2 baru kemudian pulang untuk membangun Papua.