Nama saya Alimur liwiya.Saya seorang mahasiswa Papua yang
berkuliah di STKIP Surya. Saya berasal dari Desa Distrik Kuari,
Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua.
Aneh dan tampak sedikit
menakutkan bila dilihat dari rupa dan penampilan saya. Akan
tetapi, siapa yang bisa menyangka saya adalah orang yang sangat ramah
dan tulus dalam menjalin pertemanan dengan orang lain. Pertama kali
saya bertemu dengan temen-teman dari Kalimantan Tenggah,Belitung
Timur,Palembang yaitu saat memasuki kampus STKIP Surya ini, tepatnya
di kelas TIK 3. Saya, berkulit hitam, keriting rambut layaknya
seorang Papua Pikiranku akankah mereka berteman denganku, namun rasa
itu tidak mengalang saya untuk berteman dengan mereka, mereka adalah
teman-teman yang terbaik yang perna saya alami saat matrikulasi.
Singkat cerita, saya adalah anak seorang petani yang bercita-cita
tinggi untuk bersekolah. Saya adalah anak ke 1 dari 3 bersaudara.
Papua adalah daerah yang jauh dari
hiruk-pikuk kemajuan teknologi dan jarang tersentuh oleh perhatian
pemerintah. Hal ini menimbulkan dampak di berbagai aspek kehidupan,
salah satunya pendidikan. Jumlah sekolah yang ada di sana masih
tergolong sedikit dan jauh dari rumah penduduk. Betapa tidak, saya
yang tinggal di daerah pegunungan harus menempuh jarak lebih dari 5
km dengan berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Namun, jauhnya jarak
tidak menyurutkan semangatku untuk tetap bersekolah. Tidak ada
sedikitpun keluh-kesah yang di rasakan olehku dalam menjalani
semuanya itu.
Saya tergolong anak yang kurang
cerdas. Sejak menginjak bangku Sekolah Dasar sampai SMA. Saya ingin
membuktikan walaupun saya dari pedalaman, saya masih dapat bersaing
dengan anak-anak kota di daerahku, namun mereka lebih jauh lebih baik
dari saya. Pada saat saya menginjak bangku SMP saya mempunyai
cita-cita yang sangat mulia yaitu menjadi seorang pailot. Jika saya
sudah lulus SMA saya ingin melanjutkan kuliah dipenerbangan walaupun
matematika saya kurang sempurna apa lagi bahasa inggrispun tidak tahu
. Padahal semua orang tahu bahwa kuliah penerbangan itu sangatlah
mahal apalagi untuk orang seperti saya yang hanya salah satu anak
seorang petani. Ada alasan mengapa saya ingin sekali menjadi seorang
pailot. Alasan saya sangat sederhana, mengapa orang lain bisa
sedangkan saya kenapa tidak bisa itulah yang menjadi alasan saya.
Dikelas saya
adalah mahasiswa yang ceria. Akan tetapi, keceriaanku
akan surut apabila mendapat nilai kecil dalam bahasa Indonesia. Saya
memang mempunyai kemampuan yang belum baik dalam berbahasa. Saya
selalu berusaha dengan keras untuk menaklukkan
bahasa Indonesia, tetapi nilai yang kecil selalu menghantuhiku
dan membuatku
meneteskan air mata apabila melihat kertas ujian bertuliskan nilai
kecil. Ibu Hening
selalu berusaha menghiburku.
Dan berkata
“Pak Guru Ally
jangan menangis”, ucapan
itu selalu
menghibur saya.
Panggilan itu begitu melekat pada saya
sebab saya
selalu memanggil semua teman-teman
dengan sebutan Pak Guru dan Bu Guru, seperti “Pak Guru Kalimantan,
Pak guru Belitung, Bu Guru Kalimantan, Bu guru Belitung”. Guru
adalah profesi yang mungkin akan dijalani olehku
setelah lulus kuliah di STKIP Surya, walau
hal itu tidak perna terpikir olehku.
Beralih ke cita-cita awalnya tadi.
Saya tidak menyangka cita-cita saya
begitu besar. Menjadi pailot
adalah cita-cita yang luar biasa tetapi saya
yang hanya seorang anak
petani yang tanpa ragu
menjadikan itu sebagai tujuanku,
Keseriusanku,
akan
tetapi, saya
menyadari bawah
kondisi keuangan keluargaku
tidak memungkinkan untuk
menggapai semua itu. Petani Papua dengan penghasilan yang tidak
seberapa akan sulit bagiku
untuk membiayai pendidikan
penerbangan.
Saya
hidup masih dalam kondisi sederhana dan tradisonal. saya
tinggal di daerah pegunungan dengan tempat tinggal masih menggunakan
rumah adat Papua, yaitu Rumah Honai. Akhirnya saya
mengurungkan niatku
untuk menjadi pailot.
Sekarang saya
berkuliah dengan beasiswa Pemda Tolikara
di STKIP Surya untuk menjadi guru. Satu lagi keinginan saya
adalah setelah lulus S1 saya
dapat ingin melanjutkan
pendidikan S2 baru kemudian pulang untuk membangun Papua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar